CARUBAN NAGARI-George Orwell dalam buku berjudul 1984 menulis, who controls the past controls the future artinya siapa yang menguasai masa lalu akan menguasai masa depan. Herbert Butterfield menguatkan dengan mengatakan bahwa kita harus mempelajari masa lalu karena sudah begitu banyak peristiwa buruk yang terjadi.
Pernyataan itu mengandung pengertian bahwa tirani lahir karena penulisan dan pemahaman sejarah yang tidak akurat. Sebaliknya, penulisan sejarah yang benar sering kali menjadi ancaman bagi kekuasaan yang tiran. Bahkan, Gustavson mengatakan bahwa sejarah adalah the most dangerous product bagi kekuasaan yang tiran.
Tidak ada negara di dunia ini yang dapat survive tanpa sejarah. Baik oleh rezim yang tiran maupun demokratis, sejarah selalu dibutuhkan untuk mendidik warga negara menjadi good citizens. Namun, kesadaran pentingnya sejarah tidak hanya tumbuh dari penguasa, tetapi juga pada masyarakat. Sejarah yang benar berfungsi untuk mengontrol lahirnya kekuasaan absolut. Di sinilah sering terjadi tarik-menarik antara kekuasaan dan masyarakat dalam penulisan sejarah.
Baca Juga:Mauna Loa, Gunung Api Terbesar di Dunia MeletusMadinah Iman Wisata Bareng JMSI Bantu Warga Terdampak Gempa Cianjur
Sejak masa kolonial hingga merdeka telah mengalami berbagai praktik rezim yang berbeda-beda dalam menyajikan sejarah sebagai komponen penting melahirkan good citizens. Di masa kolonial, negara menghadirkan sejarah sebagai komponen membangun kesadaran tentang ’’kewarganegaraan Hindia-Belanda’’. Peran bangsa Eropa ditonjolkan sebagai penemu sekaligus pembebas penduduk Nusantara dari manusia tunasejarah menjadi manusia bersejarah dan membawa mereka dari uncivilized menjadi civilized society. Para agen kolonial menganggap kolonialisme adalah ’’pembebasan’’ pribumi dari tuna peradaban.
Dalam historiografi kolonialsentris ini penduduk pribumi juga dituliskan, tetapi mereka digambarkan hanya mampu membangun peradaban tinggi dengan direction (bimbingan) bangsa India yang Hindu dan Buddha, bangsa Timur Tengah yang Islam, serta Barat yang Kristen.
Pribumi hanyalah pekerja-pekerja kasar yang diperbudak mewujudkan desain-desain peradaban asing yang dibangun di Nusantara dan selanjutnya menjadi pewaris dari kebudayaan India, China, Timur Tengah, dan Barat itu. Sementara itu, karya-karya asli pribumi dalam ribuan naskah dan manuskrip dihakimi secara akademik sebagai false, ahistoris, mistis, mitologis, dan irasional.
Hal ini pula yang dialami ketika membicarakan sejarah Cirebon, ada semacam tuntutan “mengapa” tentang historiografi tradisional yang selama ini sudah dikenal? Dan “bagaimana” seharusnya menurut historiografi modern sebagai sebuah kebenaran sejarah.
