Masa kehancuran Kerajaan Pajajaran ditandai dengan terjadinya penyerangan yang dilakukan pihak penguasa Banten sehingga rantai sejarah keberadaan wilayah ini hilang.
Setelah tahun 1579, tidak terdapat keterangan tertulis mengenai peristiwa yang terjadi di wilayah tersebut (missing link) hingga masa munculnya ekspedisi-ekspedisi yang dilakukan oleh Scipio pada tahun 1687, Adolf Winkler pada tahun 1690, dan Abraham van Riebeeck pada tahun 1703, 1704, dan 1709.
Berdasarkan laporan dalam ekspedisi-ekspedisi tersebut, diketahui keberadaan berbagai situs sejarah, benteng, sisa parit, batas, dan letak gerbang masuk Kerajaan Pajajaran, hingga batu-batu artefak bercorak megalitik (P3KP 2013).
Baca Juga:Fakta Petilasan Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Majalengka, Telaga Mas Tak Sembarangan Dipakai BerendamRoh-Roh Orang Mati Bersatu dengan Batara Tunggal dan 10 Makam Tentara Nazi di Situs Arca Domas
Telah banyak artikel yang membahas dengan rinci laporan dari ekspedisi VOC hingga Belanda ke bekas kota Pajajaran. Kita langsung menelusuri jejak Ibukota Pajajaran tersebut.
Karakteristik Tata Ruang Periode Kerajaan
Sejarah periode kerajaan di Kota Bogor terbagi menjadi dua bagian, yaitu batas fisik tata ruang dan objek-objek yang merupakan Benda Cagar Budaya.
Batas fisik berupa sisa-sisa peninggalan sejarah Kota Bogor pada masa masih merupakan ibukota Kerajaan Pajajaran yaitu Kota Pakuan. Lokasi dan perkembangan Kota Pakuan tidak terlepas dari pemahaman masyarakat yang hidup pada masa itu, yaitu masyarakat Sunda.
Masyarakat dengan latar belakang kebudayaan sawah menganggap bahwa lahan ideal untuk pusat pemerintahan adalah lahan yang datar, luas, dialiri sungai, dan terlindung pegunungan.
Istilah topografik lahan jenis tersebut dikenal dengan nama garuda ngupuk dan saat ini dapat dilihat di Kota Garut, Kota Bandung, dan Kota Tasikmalaya.
Sementara kota-kota seperti Kota Cianjur, Kota Sukabumi, dan Kota Bogor dibangun berdasarkan konsep pengembangan perkebunan dan pertanian huma.
Istilah topografik lahan jenis ini dikenal dengan nama lemah (tanah) duwur/luhur (tinggi), dimana masyarakat tidak berlindung di balik bukit, melainkan di atas bukit.
Baca Juga:Wonosobo ‘Wanua Seba’ Tempat Berkumpulnya Para Pendeta dari Seluruh Dunia Melalui Pantura JawaAnjawong Khodam Prabu Siliwangi, Apakah Anda Telah Mengetahuinya?
Lokasi Kota Pakuan merupakan lahan lemah duwur, dimana satu sisinya menghadap kearah Gunung Salak. Tebing Ciliwung, Cisadane, dan Cipaku merupakan pelindung alami kota.
Masyarakat pada masa itu juga menganggap keberadaan Sungai Cipakancilan sebagai berkah, dimana tempat di sekitar sungai akan selalu menarik manusia untuk bermukim (Danasasmita 2012).
