Batu-batu yang menyusun benteng tersebut merupakan batu sungai. Sisa-sisa benteng ini berlokasi tidak jauh dari Situs Batu Congkrang, yang searah dengan Situs Prasasti Batutulis.
Scipio kemudian menyimpulkan bahwa pada jaman Kerajaan Pajajaran untuk memasuki wilayah Pakuan terutama keratonnya harus melalui dua gerbang.

Riebeeck yang memasuki bekas Kota Pakuan dari arah barat laut yaitu dari Empang dan Bondongan menuju Suryakencana dan Sukasari, pada saat ini juga melaporkan keberadaan benteng kota. Benteng ini terbuat dari tanah dan diapit bentangan parit.
Baca Juga:Fakta Petilasan Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Majalengka, Telaga Mas Tak Sembarangan Dipakai BerendamRoh-Roh Orang Mati Bersatu dengan Batara Tunggal dan 10 Makam Tentara Nazi di Situs Arca Domas
Sisa benteng Pakuan yang membentang di Jalan Sukasari dan Jalan Siliwangi saat ini mengelilingi kompleks komersil dan terminal.
Fisik benteng mengalami perubahan yaitu adanya tambalan semen pada beberapa tempat. Terdapat pula bangunan semi-permanen seperti tenda warung dan bengkel yang menempel pada sisa benteng. Hal ini membuat fisik benteng kotor dan rusak.


Pada simpang Jalan Pahlawan dan Jalan Batutulis, terdapat bentangan sisa benteng Pakuan yang lokasinya berada di lahan milik pribadi.
Gambar 24 menunjukan pagar yang menutupi lahan sekaligus sisa benteng. Di atas sisa benteng saat ini dibangun minimarket yang dikelilingi dinding permanen.
Tidak jauh dari lokasi tersebut, tepatnya di Jalan Cendrawasih, Bondongan, terdapat sisa benteng Pakuan dengan struktur serupa. Diatasnya telah dibangun rumah milik pribadi (Gambar 25).

Sementara itu terdapat bentangan sisa benteng Pakuan lainnya yang berada di dalam kompleks militer Sukasari-Lawang Gintung.
Sisa benteng ini diapit sungai dan merupakan lokasi padat penduduk. Kondisi fisik benteng mengalami perubahan, yaitu kerusakan di bagian permukaan karena adanya bangunan permanen diatasnya.

Batas Fisik Lanskap Sejarah
Baca Juga:Wonosobo ‘Wanua Seba’ Tempat Berkumpulnya Para Pendeta dari Seluruh Dunia Melalui Pantura JawaAnjawong Khodam Prabu Siliwangi, Apakah Anda Telah Mengetahuinya?
Sampai saat ini batas-batas fisik lanskap sejarah peninggalan Pakuan masih sering diperbincangkan. Terdapat berbagai versi peta persebaran yang dibuat oleh Tim Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) pada tahun 2013, Zahorka pada tahun 2007, dan Danasasmita pada tahun 1980-an.Â
Masing-masing peta memiliki perbedaan interpretasi terhadap lokasinya, tetapi secara keseluruhan semua peta tersebut menggambarkan delineasi batas fisik lanskap yang memiliki nilai signifikansi sejarah.
Tim P3KP menyusun delineasi perkiraan wilayah pusat Kerajaan Pajajaran berdasarkan deskripsi batas-batas fisik peninggalan Pakuan oleh Sarilestari (2009), yaitu sebagai berikut:
