Melacak Ibu Kota Kerajaan Pajajaran, Pakuan

45756900 2486177748064269 7023800253849534464 n
Palangka Batu Sriman Sriwacana atau sering disebut Watu Gilang yang dalam bahasa Sunda berarti Batu yang berkilau. Batu ini merupakan pangcalikan atau tempat duduk sewaktu Raja-Raja Sunda dilantik menjadi Penguasa. Batu ini sudah dikisahkan di dalam Carita Parahiyangan yaitu: Sang Susuktunggal inyana nu nyieuna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji d i Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana Pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata. Yang berarti: "Sang Susuktunggal ialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana untuk Sri Baduga Maharaja, Ratu penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di Keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati yaitu istana Sanghiyang Sri Ratu Dewata" Batu ini setidaknya masih berada di Pakuan Pajajaran hingga tahun 1579 dan pasukan Panembahan Yusuf atau Maulana Yusuf membawa batu ini dari Pakuan ke Surosowan di Banten.
0 Komentar

Pemaparan ini dibandingkan dengan kondisi yang ditinjau melalui survei lapang. Batas-batas fisik lanskap sejarah tersebut adalah:

Gerbang Menuju Keraton

Gerbang menjuju keraton ini dilaporkan oleh Adolf Winkler pada tahun 1690. Winkler bersama pasukannya memasuki bekas Kota Pakuan di wilayah Batutulis dari arah Tajur.

Di daerah ini Winkler menemukan sebuah jalan berbatu yang tersusun rapi dan membentang menuju ke sebuah pasèban atau balai untuk menghadap raja.

Baca Juga:Fakta Petilasan Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Majalengka, Telaga Mas Tak Sembarangan Dipakai BerendamRoh-Roh Orang Mati Bersatu dengan Batara Tunggal dan 10 Makam Tentara Nazi di Situs Arca Domas

Pada balai tersebut ditemukan 7 pohon beringin dan sepasang disolit yang yang digunakan sebagai tempat duduk pengawal kerajaan.

Saat ini, lokasi tempat yang dideskripsikan Winkler adalah Gang Amil di Jalan Batutulis. Gang Amil diapit infrastruktur bangunan dan letaknya berdampingan dengan jalan raya.

Letak disolit tidak jauh dari mulut gang dan berada di dalam rumah salah seorang penduduk.

gerbang%2Bpajajaran

Tempat Penobatan Raja

Adanya tempat penobatan raja ini dilaporkan oleh Adolf Winkler pada tahun 1690, tepat setelah Winkler dan pasukannya menemukan bekas keratonPakuan.

Winkler melaporkan penemuan batu yang berisi tulisan sebanyak 8,5 baris. Batu bertulis tersebut terletak berdampingan dengan batu panjang dan bulat yang tingginya sama dengan batu bertulis.

Batu-batu ini terletak di suatu kompleks bersama beberapa jenis batu lainnya. Saat ini lokasi tersebut dinamakan Situs Prasasti Batutulis.

Pada jaman Kerajaan Pajajaran, Situs Prasasti Batutulis merupakan wilayah terbuka sebagai tempat upacara penobatan raja-raja Pajajaran.

Baca Juga:Wonosobo ‘Wanua Seba’ Tempat Berkumpulnya Para Pendeta dari Seluruh Dunia Melalui Pantura JawaAnjawong Khodam Prabu Siliwangi, Apakah Anda Telah Mengetahuinya?

Saat ini cungkup Situs Prasasti Batutulis masih dipertahankan. Cungkup ini dilaporkan keberadaannya pada tahun 1864.

Menurut Danasasmita (2014), cungkup mulai dibuat pada akhir abad 18. Bentuk cungkup yang menutupi objek di dalamnya memutuskan hubungan kesatuan ide posisi artefak-artefaknya.

Lokasi situs saat ini diapit bangunan-bangunan yaitu rumah, tempat usaha, dan sekolah. Situs juga berada berdekatan dengan jalan raya sehingga membahayakan pejalan kaki yang berjalan di sisi situs.

batu%2Btulis%2Bcungkup

Jalan Masuk Menuju Pakuan

Temuan jalan masuk menuju Pakuan dilaporkan oleh Abraham van Riebeeck pada tahun 1709 yang datang dari arah Baranangsiang.

Riebeeck melaporkan penemuan alun-alun yang di sekelilingnya terdapat 3 pohon beringin yang disebutnya sebagai bitsarboom atau pohon ‘bicara’.

0 Komentar