Sebutan ini disebabkan rapat umum kerajaan pada jaman dahulu dilakukan di bawah naungan pohon beringin dimana pembesar kerajaan yang akan berbicara berdiri di bawahnya.
Saat ini alun-alun yang dideskripsikan Riebeeck adalah Alun-Alun Empang yang dikelilingi bangunan padat penduduk dan dilewati jalur lalu lintas yang ramai setiap harinya.
Pembangunan fasilitas umum seperti rumah sakit, pusat perbelanjaan, dan penambahan pemukiman semakin membuat padat wilayah ini.
Baca Juga:Fakta Petilasan Prabu Dewantaprana Sri Baduga Maharaja di Majalengka, Telaga Mas Tak Sembarangan Dipakai BerendamRoh-Roh Orang Mati Bersatu dengan Batara Tunggal dan 10 Makam Tentara Nazi di Situs Arca Domas
Setelah melewati alun-alun tersebut, Riebeeck melewati sebuah parit, kemudian jalanan menanjak yang sempit dan diapit dua parit yang terjal dan dalam.
Saat ini jalan yang dilewati Riebeeck adalah Tanjakan Empang-Bondongan dan dua parit terjal tersebut menjadi jalur kereta api dan deretan pemukiman penduduk.


Bekas Parit
Bekas parit ini dilaporkan oleh Abraham van Riebeeck pada tahun 1704. Dalam perjalanannya Riebeeck menemukan batu tinggi berisi tulisan (Prasasti Batutulis) dan 3 buah patung arca (Situs Purwakalih), yang menandakan bahwa Riebeeck telah memasuki kawasan Pakuan.
Kemudian Riebeeck mencatat di sebelah barat 3 patung arca tersebut terdapat jalanan menurun terjal menuju Sungai Cisadane. Di sisi jalan tersebut diapit oleh parit yang juga terjal.
Saat ini jalanan menurun tersebut adalah Jalan Drs. Saleh Danasasmita dan pada bekas parit kini dibangun jalur rel kereta api Stasiun Batutulis.

Rel kereta api di Jalan Layungsari yang dibangun di bekas parit Pakuan saat ini diapit pemukiman padat penduduk. Jalur kereta masih aktif digunakan, yaitu rute Batutulis-Cianjur-Sukabumi.

Bekas parit yang menjadi pelindung alami kota membentang dari tebing Cipaku menuju rel kereta api Stasiun Batutulis, kemudian membentang melewati belakang Istana Batutulis, Jalan Jerokuta, Taman Makam Pahlawan, Jalan Lolongok, hingga berakhir di wilayah Empang.
Baca Juga:Wonosobo ‘Wanua Seba’ Tempat Berkumpulnya Para Pendeta dari Seluruh Dunia Melalui Pantura JawaAnjawong Khodam Prabu Siliwangi, Apakah Anda Telah Mengetahuinya?
Bentangan rel kereta api pada bekas parit Pakuan saat ini diapit oleh pemukiman penduduk dan Sungai Cisadane pada sisi kiri, sementara pada sisi kanan merupakan tebing batu terutama nampak di belakang Istana Batutulis.
Sisa Benteng Pakuan
Sisa benteng pakuan ini dilaporkan oleh Scipio pada tahun 1687. Dalam catatan perjalanannya menuju bekas Kota Pakuan, Scipio menemukan sisa-sisa benteng Pakuan, yaitu tembok yang terbuat dari deretan dan tumpukan batu-batu setinggi 6,8 sampai 10 meter.
